Seputar “Drama” Si Kecil Yang Mogok Sekolah

Dokumen Pribadi — ririssgayuh.wordpress.com


Bagi orangtua yang memiliki anak usia prasekolah (pada kasus ini saya ambil rentang usia anak 3-6tahun), tentu pernah mengalami “drama” menghadapi anak yang sedang “mogok” sekolah atau merasa enggan untuk sekolah. Nah kali ini saya ingin mengulas seputar “drama” mogok sekolah pada anak.

Banyak upaya yang bisa dilakukan dalam mengatasi si kecil mogok sekolah. Pengalaman berbeda yang dimiliki setiap anak dan orangtua tentu membuat penanganan berbeda pula dalam kasus ini. Bagaimanapun juga, setiap anak tidak sama dan memiliki karakter berbeda. Untuk mencari solusi yang tepat dalam menangani si kecil yang mogok sekolah, baik orangtua maupun guru ada baiknya menggali terlebih dahulu penyebab kenapa anak mogok sekolah. Dengan mengetahui faktor penyebab si kecil enggan untuk pergi sekolah, tentu orangtua dan guru dapat menentukan solusi yang tepat. Well, langsung saja yuk kita kupas.

Faktor Internal

• Anak Sedang Sakit

Salah satu faktor internal yang dapat menyebabkan anak “mogok” sekolah adalah sedang sakit atau tidak enak badan. Orangtua tentu harus lebih peka dalam hal ini. Mungkin saja secara fisik dia tidak terlihat sakit, tidak demam dan tidak batuk pilek misalnya. Namun siapa sangka ternyata anak sedang menahan nyeri perut, sakit kepala, sakit gigi, dan lain-lain. Untuk itu sangat penting mengkomunikasikan hal ini dengan anak. Jika memang benar anak dalam kondisi sakit, tidak mungkin kan orangtua tetap membujuknya untuk tetap masuk sekolah? Memeriksakan anak ke dokter kemudian mengijinkan si kecil untuk instirahat di rumah adalah solusi terbaik untuk kondisi ini.

• Anak Lelah

Banyaknya aktivitas yang dilakukan dapat menyebabkan si kecil kelelahan. Memberikan anak kesempatan untuk leyeh-leyeh sejenak nampaknya sah-sah saja dilakukan dalam kondisi ini, selama masih dalam batas wajar dan tidak berlangsung lama. Berikan si kecil pelukan manja dan pijatan lembut agar dirinya merasa rileks hingga akhirnya siap untuk kembali sekolah.


• Anak Telah Sampai Pada Titik Jenuh

Sumber Gambar : pixabay.com

Sama halnya dengan orangtua, anak-anak pun bisa merasakan kejenuhan. Namun jangan salah, hal ini tidak berlaku bagi anak yang sudah sekolah saja lho. Terlalu lama berada di dalam rumah dengan rutinitas yang monoton pun dapat menimbulkan kejenuhan pada anak. Nah, jadi jangan buru-buru men-judge bahwa sekolah di usia balita membuat anak menjadi bosan sekolah di kemudian hari ya.

Kembali ke topik, siapapun akan mungkin sampai pada satu titik jenuh. Dalam konteks ini, beragamnya kegiatan di sekolah dan ketatnya aturan yang diberikan, bagi sebagian anak terkadang dapat menjadi salah satu pemicu yang menyebabkan si kecil sampai pada titik jenuh dan beralasan untuk “mogok” sekolah.

Namun tidak usah khawatir, karena pada dasarnya kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, baik itu Kelompok Bermain ataupun Taman Kanak-Kanak, tentu sudah membuat standarisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak usia pra-sekolah. Semua aturan maupun kegiatan di sekolah tentu sudah disesuaikan dengan tugas perkembangan anak sesuai tahapan usianya.

Lalu bagaimana solusi jika anak sudah sampai pada titik jenuh hingga mengakibatkan dia “mogok” sekolah? Tenang parents, “banyak jalan menuju roma”. Banyak pula yang bisa kita lakukan utk mengatasi hal ini. Pertama, komunikasikan terlebih dahulu pada anak apa yang membuat dia merasa jenuh. Jika tidak mendapat jawaban dari anak, orangtua dapat menggali informasi melalui guru. Namun jika anak sudah cukup terbuka dalam hal ini, tentu dengan sendirinya dia akan curhat ke orangtua tentang apa yang membuat dia malas sekolah pada saat itu.

Setelah mengetahui penyebabnya, inilah saatnya orangtua beraksi. Lagi-lagi orangtua dapat memberikan reward jika anak bersedia untuk sekolah. Reward atau hadiah ini tidak harus berupa mainan dan barang berharga ya. Hadiah bisa saja berupa makanan kesukaannya, mengajak jalan-jalan sepulang sekolah, mengijinkan anak menonton film kartun favoritnya setelah pulang sekolah untuk melepas kejenuhan, dan masih banyak lagi.

Eitz, tapi jangan buru-buru memberikan hadiah dulu. Disisi lain, reward rentan membuat anak ketagihan hingga tidak menutup kemungkinan si kecil akan mengulangi perbuatannya. Tentu saja dengan harapan kembali mendapatkan hadiah jika mengulangi perbuatannya tersebut. Oleh sebab itu, jangan terlalu sering dan gampang memberikan hadiah pada anak.

Sebelumnya, orangtua bisa mencoba upaya persuasif dalam kondisi ini. Mengajak anak mengobrol santai, tanpa harus melototin anak (hingga bola mata seolah mau lepas, hehehe) dan tanpa ancaman tentunya. Untuk upaya persuasif ini, saya yakin tiap orangtua tentu sudah punya cara jitu masing2. Kalau saya biasanya mencoba membujuk dengan cara mengajak anak ngobrol santai terlebih dulu. Kesampingkan ego sejenak, tarik nafas, bersiap untuk negosiasi. Jangan lupa untuk selalu memilih bahasa yang mudah dipahami anak, misalnya “Kalau adik nggak sekolah nanti teman-temannya pada nyariin lho! Mereka sedih kalau adik nggak sekolah. Yuk nak, kita berangkat. Teman-teman dan ustadzah (bu guru) sudah menunggu adik di sekolah”. Memang tak jarang hal ini dilalui dgn proses negosiasi yang panjang dan cukup alot, kuncinya adalah kesabaran orangtua untuk tidak terpancing emosi dan terus berjuang tidak pantang menyerah.


Faktor Eksternal

• Hubungan Dengan Teman Di Sekolah


Dokumen Pribadi — Kegiatan Gibran bersama teman-teman
di Kelompok Bermain

Salah satu faktor eksternal yang dapat memicu “drama” anak mogok sekolah adalah hubungan anak dengan teman di sekolah. Untuk hal ini, pada umumnya anak akan terbuka pada orangtua. Namun tidak semua anak sama, beda anak tentunya beda pula karakternya. Bagi anak-anak yg memang kurang terbuka, kembali lagi orangtua dapat mengkomunikasikan hal ini pengan guru di sekolah. Orangtua dapat bertanya seputar kegiatan anak di sekolah hingga bagaimana hubungannya dengan teman-teman sekelas.

Tak jarang pertengkaran dengan teman di kelas menjadi pemicu anak tidak ingin sekolah. Untuk masalah ini, orangtua bisa bekerjasama dengan pihak sekolah untuk mendamaikan keduanya. Apalagi pada umumnya marahnya anak itu tidak awet, hari ini berantem bisa saja satu jam bahkan satu menit kemudian sudah baikan lagi.Melalui kerjasama dengan pihak sekolah, masalah pertengkaran anak dan temannya akan dpt diselesaikan dengan bijak. Meskipun tidak lepas pula dengan upaya orangtua untuk terus memotivasi anak.


• Hubungan Dengan Pendidik (Guru)

Meski sangat jarang terjadi, hubungan anak dgn pendidik juga dapat menjadi pemicu anak tidak mau masuk sekolah. Pada umumnya semua guru akan bersikap baik dan ramah pd anak. Namun tetap ada kemungkinan terjadinya “salah persepsi” antara anak dan guru. Misalnya, anak yang di rumah terbiasa dengan nada bicara orangtua yang pelan dan tidak berteriak, tiba-tiba mendapati guru di sekolah yg berbicara dengan suara keras dgn tujuan agar seisi kelas dpt mendengarnya. Bagi kita mungkin itu adalah hal wajar, namun tidak bagi sebagian anak. Berbagai persepsi dapat muncul hanya disebabkan oleh “suara” atau intonasi pendidik. Bagi sebagian anak, suara keras itu bisa berarti guru kejam atau guru sedang marah. Padahal pada kenyataannya tidak demikian. Untuk itulah tugas orangtua menjelaskan dan memberi pengertian pada anak agar tidak salah paham lagi.

Contoh kasus lain adalah anak yang mendadak ngambek tidak mau sekolah setelah diingatkan guru agar tidak mengganggu teman atau dalam hal lainnya. Meski maksud dan tujuan pendidik baik, sebagian anak yg “sensitif” bisa saja merasa tersinggung dan ngambek tidak mau sekolah. Kembali lagi solusinya adalah mengkomunikasikan hal ini pada anak dan berdiskusi dengan pihak pendidik. 


• Tayangan Televisi & Gadget

Sumber Gambar : pixabay.com

Menurunnya motivasi sekolah pada anak juga dapat disebabkan karena intensitas penggunaan gadget dan menonton televisi yang relatif sering, terutama sebelum berangkat sekolah. Berdasarkan pengalaman saya dan cerita dari beberapa teman, anak menjadi malas sekolah karena ingin menonton film kartun favoritnya yang biasa tayang pagi hari sampai dengan selesai. Begitu pula dengan gadget. Mengawali hari dengan memberikan gadget pada anak adalah salah satu kesalahan fatal. Si kecil akan cenderung asyik dengan gadget nya hingga berdampak buruk dan mengabaikan sekolah. Oleh sebab itu, hindari menyalakan televisi maupun memberikan gadget sebelum si kecil berangkat sekolah. Berikan batasan dan aturan pada anak dlm menonton televisi dan menggunakan gadget sesuai dgn usianya.


• Fasilitas

Fasilitas, baik yang disediakan sekolah maupun orangtua juga faktor yang bisa ikut “ambil bagian” dalam drama si kecil mogok sekolah. Fasilitas di sekolah dapat berupa terbatasnya arena bermain yang menyebabkan si kecil tidak memiliki kesempatan untuk bermain dan memanfaatkan fasilitas tersebut. Tak jarang pula, siswa lain tidak mau antri dan bergantian dlm menggunakan fasilitas yg sudah disediakan sekolah. Wah, Kalau sudah begini tentu dapat menyebabkan si kecil kesal dong ya?

Untuk itu, kembali lagi diskusikan dengan pihak sekolah agar mendapat jalan keluar terbaik, misalnya dengan lebih memperhatikan hak dan kewajiban siswa2 dalam penggunaan fasilitas sekolah. Tujuannya adalah agar semua siswa dapat menikmati fasilitas yang disediakan sekolah dengan adil sesuai hak dan kewajiban siswa.

Yang tidak kalah pentingnya adalah fasilitas dari orangtua si anak sendiri. Memfasilitasi dalam hal sewajarnya itu penting, tidak berlebihan, sesuai dgn porsinya. Fasilitas yang diberikan orangtua pada anak terkait dengan kebutuhan sekolah seperti : sepatu, tas, seragam layak pakai, dan keperluan lain. Kondisi terkait fasilitas yang dapat menjadikan alasan anak tidak mau berangkat sekolah misalnya : sepatu jebol, baju seragam sobek, tali tas putus, dan masih banyak lagi. Selama masih dalam batas wajar, tidak ada salahnya orangtua memberikan fasilitas pada anak sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tanpa disadari maupun tidak, ini bisa menjadi salah satu motivasi bagi anak agar lebih giat menuntut ilmu di sekolah.

Namun bagaimana ya kira-kira jika si kecil ngambek tidak mau sekolah karena ingin punya tas baru seperti temannya, sementara tas yang lama masih layak pakai? Hmm, tentu saja tugas kita sebagai orangtua untuk memberi pengertian, bahwa tidak semua yang si kecil inginkan bisa didapat. Jangan lupa untuk tetap memberi pengertian dengan bahasa yang mudah dipahami, misalnya “Tas adik masih bagus kog nak, gambarnya juga bagus sekali ini, tokoh kartun kesukaan adik. Teman adik yg dibelikan tas baru mungkin karena tasnya sudah rusak. Nah kalau punya adik kan masih bagus, masih bisa dipakai, gambarnya juga bagus”.

Dari situ secara tidak langsung kita akan membuat dia berpikir untuk memiliki barang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, sesuai dengan fungsi atau kegunaan, bukan keinginan semata. Sekecil apapun bentuknya, penting bagi orangtua untuk menanamkan rasa cinta dan syukur atas apa yang anak miliki. Dengan begitu, anak dapat menjaga fasilitas yang diberikan orangtua dengan sebaik-baiknya.

Satu hal yang perlu diingat adalah jangan menunda untuk mengajarkan kebiasaan baik pada anak. Karena sungguh, kebiasaan yang tertanam pada anak sejak kecil akan terbawa hingga dirinya dewasa nanti.

Iklan

Menjawab Tantangan Era Digital Diawali Dengan Menjadi Narablog Perempuan

 

“Dunia akan selalu berubah, duniamu pun butuh perubahan. Jangan menunda, lakukan sekarang! Menunda sebentar saja bisa jadi akan membuatmu lupa dan terlena. Jika tidak bisa banyak, lakukan sedikit demi sedikit. Asal tekun dan konsisten, yang sedikit itu akan menjadi banyak, membuahkan hasil, hingga membuatmu mampu menggapai mimpi”

Sumber Gambar : pixabay.com

Sepenggal Kisah Tentang Perempuan

Seiring perkembangan teknologi dan majunya zaman, tuntutan “dunia” terhadap perempuan begitu tinggi. Pada era digital ini perempuan harus pandai mengurus rumah tangga, sekalipun dia adalah seorang wanita karir. Disisi lain, perempuan dituntut untuk bisa menghasilkan uang, sekalipun dia adalah seorang ibu rumah tangga. Bahkan perempuan harus memiliki wawasan yang luas, mengetahui segala bentuk informasi di luar sana, sekalipun sehari-hari dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Memilih Menjadi Narablog Perempuan Pada Era Digital

Bagi saya, hidup tidak melulu soal materi. Kekayaan bukanlah apa yang kita miliki, namun apa yang bisa kita berikan untuk orang lain. Tentunya akan lebih menyenangkan jika apa yang kita miliki itu ternyata bermanfaat untuk orang lain bukan? Ya, alasan pertama kenapa saya memilih menjadi narablog adalah agar hidup saya lebih bermanfaat. Blog adalah salah satu media yang tepat untuk membagikan ilmu dan pengalaman yang kita miliki. Meski baru mulai menjadi seorang narablog, saya optimis dapat merubah “dunia” saya menjadi lebih baik.

Sumber Gambar : pixabay.com

Semenjak  memutuskan berhenti bekerja dan hijrah mengikuti suami, hidup ini seolah mengalir begitu saja. Semua serasa monoton, yang terjadi hari ini kembali terulang keesokan hari. Begitupun hari-hari selanjutnya. Hingga pada akhirnya, saya dipertemukan dengan orang-orang baik melalui media sosial. Orang-orang yang menurut saya sangat baik ini begitu menginspirasi saya. Yang lebih istimewanya lagi, mereka berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, mahasiswa, karyawan, pengusaha, hingga ibu rumah tangga seperti saya. Kira-kira siapa ya? Yup, mereka adalah narablog atau blogger.

Upaya Untuk Mengikuti Perkembangan Era Digital

Sukses membuat saya membuka mata, para narablog senior dengan segudang prestasi yang sudah mereka raih mampu menggiring saya untuk memberanikan diri menggerakkan jemari dan mulai menulis. Sadar sebagai pemula, tulisan yang saya buat memang masih terlalu receh. Bagaikan remahan rengginang di antara cheescake dan redvelvet. Tapi saya yakin, semuanya kembali kepada selera pembaca.

Apalah gunanya ilmu jika tidak dibagikan. Berbekal ilmu psikologi yang saya dapatkan semasa kuliah dulu, saya ingin membawa banyak manfaat bagi sesama. Menurut saya kombinasi antara ilmu pengetahuan dan pengalaman itu penting bagi seorang narablog dalam menyajikan sebuah tulisan. Bagaimanapun juga pembaca pantas untuk mendapatkan yang terbaik. Bukan sekedar “tong kosong yang nyaring bunyinya”, apalagi hoax yang kian merajalela.

Dengan menjadi narablog secara tidak langsung kita dipaksa untuk terus belajar dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Meski masih terbilang baru dalam dunia blogger, saya merasa menjadi haus akan informasi dan ilmu. Oleh sebab itu, alasan berikutnya kenapa saya tertarik ingin menjadi narablog tidak lain adalah agar lebih termotivasi untuk terus belajar dan tidak malas untuk update informasi terkini.

Menulis Blog Sebagai Media Katarsis

Dalam ilmu psikologi, secara umum katarsis adalah salah satu bentuk peluapan emosi. Melalui katarsis, segala kecemasan dan ketegangan dapat berkurang bahkan hilang. Inilah yang menjadi alasan saya berikutnya kenapa ingin menulis di blog. Ya, sebagai media katarsis. Menulis adalah salah satu hobi saya sejak duduk dibangku sekolah. Dengan menulis, ada sesuatu yang membuat saya merasa lega. Menjadi kepuasan tersendiri ketika dapat menyelesaikan sebuah tulisan. Apapun bentuknya, berapapun lamanya waktu yang telah dihabiskan. Energi yang digunakan untuk menuangkan pikiran melalui tulisan tak akan pernah terasa sia-sia. Setidaknya itulah yang saya rasakan.

 “Hidup Hanya Sementara. Dengan Menulis, Saya Ada”

Sumber Gambar : pixabay.com

Besar harapan dalam hati agar suatu saat kelak anak cucu saya dapat membaca kata demi kata yang tertulis dalam blog ini. Agar jika sudah tiada nanti, jejak diri ini akan tetap ada. Mewarisi harta adalah hal biasa, namun mewarisi ilmu sejatinya akan lebih bermakna. Semoga apa yang saya tulis tidak hanya mengasah kemampuan yang ada, namun juga berguna bagi sesama. Hingga membuat saya menjadi pribadi yang lebih bermakna.

Dimana Ada Proses Disitulah Ada Progres

Sumber Gambar : startersteps.wordpress.com

Entah sampai kapan tulisan saya akan dikenal dan layak untuk ada di hati para pembaca. Yang jelas, saya yakin dimana ada proses pasti akan ada progres. Tidak semudah membalikkan telapak tangan memang, namun tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang saya berharap dapat menginspirasi banyak orang melalui tulisan. Meski masih “anak baru” dalam dunia blogger, saya coba memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi blog bang Nodi. Bagi saya, kompetisi ini sangat adil dan tidak memihak. Karena dengan tema yang sama, narablog yang sudah memiliki jam terbang tinggi mendapat kesempatan yang sama dengan narablog pemula. Masing-masing dapat menyajikan cerita, sesuai dengan porsinya.

Tahun ini adalah awal saya berproses sebagai seorang narablog. Saya tidak ingin menjadikan tahun ini sebagai akhir dari proses itu pula. Fokus, disiplin dan konsisten dalam menulis adalah tiga hal yang harus selalu ada dalam diri untuk mencapai resolusi saya agar dapat menjadi seorang narablog jempolan. Semoga tahun ini membawa perubahan bagi “dunia” saya menjadi lebih baik, dengan predikat baru sebagai blogger. Besar pula harapan saya agar bisa menjadi sebaik-baiknya perempuan, yang tidak hanya melulu mengurus seputar dapur dan rumah tangga, tapi juga mampu menghasilkan karya dan memberikan kontribusi terhadap sesama. Hingga akhirnya sampai pada tujuan, bahwa saya bangga dapat menjawab tantangan era digital dengan menjadi narablog perempuan.

 

*Catatan Narablog : Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Nodi dengan tema Bangga Menjadi Narablog pada Era Digital.

#KompetisiBlogNodi #NarablogEraDigital

Sumber Gambar : nodiharahap.com

 

Kunci Sukses Toilet Training

Bagi sebagian orang tua, toilet training adalah salah satu proses yang membutuhkan kesabaran. Banyak orangtua yang bertanya kapan proses toilet training bisa dimulai, bagaimana cara untuk memulainya, hingga kapan toilet training dinyatakan berhasil.

Saya sendiri sudah membuktikan bahwa proses toilet training memang cukup melelahkan dan menguji kesabaran. Meski demikian, ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat anak-anak sudah berhasil melalui serangkaian proses tersebut.

Seperti biasa, saya awali dengan cerita pengalaman saya pribadi dalam proses toilet training anak pertama saya (Tristan) dan anak kedua saya (Gibran). Proses toilet training Gibran tidak sepanjang yang dilalui kakaknya. Tristan sukses toilet training diusia 2 tahun 5 bulan, sedangkan Gibran sukses toilet training pada usia 20bulan. Ya, belum genap dua tahun. Banyak teman yang bertanya kepada saya, “kog bisa Gibran lepas popok sebelum 2 tahun? Gimana caranya?”

Saya dan suami menganggap proses toilet trainingnya si adik ini adalah bonus. Kenapa kami bilang bonus? Karena si adik sering melihat kakaknya yang biasa buang air kecil dan buang air besar di toilet, sehingga dengan sendirinya Gibran mengikuti kebiasaan kakaknya tersebut. Begitu juga saat melihat si kakak memakai celana dalam, terutama yang bergambar tokoh-tokoh kartun kesukaan mereka. Dengan antusias si adik ingin juga seperti kakaknya yang memakai celana dalam, tidak mau memakai diapers lagi.

Ohya, disini saya juga ingin menceritakan kesalahan yang saya buat waktu proses toilet training anak pertama saya yang saya anggap cukup fatal, yaitu ketidak konsistenan. Saat itu kami melakukan perjalanan ke luar pulau dan menginap beberapa hari di rumah saudara, sehingga saya pikir ”ah, gak apa lah dipakein popok aja daripada ribet”. Ternyata saya salah besar, anggapan yang bagi saya ”ah, gak apa-apa” itu justru jadi boomerang bagi diri saya sendiri. Tristan sempat tidak mau lagi memakai celana dalam sepulang dari perjalanan, hikz sedih. Tapi untungnya hal itu tidak berlangsung lama, dengan negosiasi dan komunikasi dengan bahasa yang mudah dipahami anak akhirnya dia mengerti. And yess, toilet training benar-benar berhasil (akhirnya ya mamak lega, hehehe)

Selain kesiapan anak, kesiapan orang tua adalah kunci sukses dalam toilet training. Pada umumnya balita usia 18bulan sudah mulai bisa dilatih untuk toilet training. Namun ada juga orang tua yang memulai proses toilet training sebelum usia 18 bulan atau di atas usia 18 bulan. Semua tidak lepas dari kesiapan si anak sendiri. Tidak setiap anak memiliki kesiapan toilet training pada usia yang sama tentunya. Orang tua harus lebih peka dalam hal ini. Jika dirasa anak memang sudah mampu dan mau untuk disiplin dalam BAB dan BAK pada tempatnya, kenapa harus menunda? Lakukan segera! Disiplin dan Konsisten! Jika sudah memulai, jangan ada kata menyerah sebelum berhasil (semangat, hehehe).

Ada banyak cara untuk memulai proses toilet training. Salah satunya adalah dengan membuat jadwal untuk membiasakan anak agar buang air kecil di toilet setiap satu jam atau dua jam sekali. Selama cara pertama ini berlangsung, orang tua bisa mulai mengganti diapers dengan celana dalam atau celana dalam khusus untuk berlatih toilet training yang saat ini sudah banyak dijual online maupun di pasaran. Tujuannya adalah agar jika anak ngompol dia merasa risih karena adanya sensasi basah pada celana dalam. Berbeda dengan menggunakan diapers yang pada umumnya selalu kering setelah anak buang air kecil. Jangan lupa sediakan kain pel atau lap untuk jaga-jaga kalau anak ngompol sebelum jadwal yang sudah ditentukan ya. Kuncinya adalah sabar, jangan takut anak ngompol karena ini adalah proses. Dan yang namanya proses tentu akan ada progress dong.. 😊

Selanjutnya berikan anak  reward jika berhasil, berupa pujian ataupun hadiah. Untuk hadiah tidak melulu soal materi ya, bisa dengan memberi gambar bintang atau apa saja yang disukai anak jika dia berhasil untuk tidak ngompol.

Nah selanjutnya membiasakan anak untuk BAB pada tempatnya. Ini yang bagi saya lebih susah dibanding membiasakan anak BAK di toilet. Karena agak sulit bagi saya pribadi untuk membuat jadwal BAB mereka (duh bukan agak sulit lagi sih ya, tapi emank gak bisa dijadwalin, hahaha). Tapi kembali lagi kita sebagai orang tua yang harus peka melihat kapan kita-kira si anak mau BAB (biasanya kalau anak saya mau BAB sih ditandai dengan memegang perut atau buang angin, hehehe). Seiring berjalannya waktu toilet training bisa berhasil. Hal ini bisa ditandai dengan kemauan si anak untuk tidak mau lagi menggunakan diapers, selalu BAB dan BAK pada tempatnya, bisa menahan diri untuk tidak ngompol serta buang air besar sembarangan.

Jadi untuk para orang tua yang sedang mempersiapkam toilet training anak, JANGAN TUNDA JIKA SUDAH SIAP. Jangan pernah beranggapan ”ah, nanti juga bisa sendiri kalo udah gede”. BIG NO, buang jauh-jauh pemikiran seperti itu. Karena kunci sukses keberhasilan toilet training anak ada pada kesiapan dan kemauan orang tua, disiplin serta konsisten.

Well, sekian dulu celoteh mami tentang toilet training. Meski kepanjangan, semoga bermanfaat ya. See you on next post😊

 

 

 

 

Anak itu Anugerah, bukan Masalah!

Sebelumnya sedikit curhat nih..

Saya ibu beranak 2, yg jarak usia antara anak pertama dan kedua tidak terlalu jauh berbeda, yaitu 18bulan.

Saat anak kedua saya lahir, anak pertama saya baru usia 18bulan waktu itu.

Ditanya perasaan saya bagaimana waktu itu? Woww tentu campur aduk, hehehe. Antara senang, cemas, takut, khawatir, semua bercampur jadi satu. Senang karena kembali dikasih kepercayaan buat punya baby lagi. Takut, karena anak pertama lagi aktif-aktifnya dan belum begitu memahami konsep kakak-adik. Khawatir tidak bisa adil dalam membagi kasih sayang, khawatir tidak bisa menjadi ibu terbaik untuk mereka.

Well, tapi Allah Maha baik. Dia-lah sebaik baik pengatur kehidupan. Ternyata semua tidak sesulit yang saya bayangkan dan fikirkan. Selalu ada saja cara Allah untuk menolong saya, yang kebetulan lebih memilih untuk membesarkan anak-anak berdua dengan suami, tanpa baby sitter maupun ART.

Sejak adiknya masih dalam perut, si kakak sudah saya ajarkan untuk sayang adik. Meski masih sekecil itu (waktu saya hamil usia kakak belum genap 1 tahun), saya yakin melalui bahasa sederhana dia akan mengerti. Semakin perut ini membesar, semakin antusias si kakak mengelus perut maminya.

Pada awal kelahiran adiknya, tentunya si kakak masih kelihatan bingung dengan kehadiran anggota baru di keluarga kami. Dia sering gemas cubitin pipi adiknya yang chubby. Harus ekstra perhatian dan penjagaan memang ya moms, mengingat usia si kakak baru 18bulan saat itu. Jadi kami sebagai orangtua bisa dibilang malah justru lebih fokus ke kakak saat itu, sambil terus berusaha memberi pemahaman ke kakak bahwa “he is a big brother now”.

Saya sering gemes kalo ada orang yang bilang kesundulan lah, kasihan si kakak masih kecil udah ada adik lah, dan ujaran lain yang saya anggap adalah bentuk nyinyir. Sempat mikir, buat apa sih mereka bilang gitu? Tapi seiring berjalannya waktu, saya anggap itu bentuk “perhatian” mereka terhadap kami, hehehe. Yaudah sih gak usah diambil pusing, yang penting anak-anak bisa dihandle. Emank sengaja waktu itu gak KB moms, niatnya sih biar jarak anak pertama dan kedua gak terlalu jauh. Soalnya kalo di mall atau di jalan ketemu sama anak yang jaraknya deketan kelihatannya seru gitu (yang lihat sih seru tapi emaknya yang rempong ya moms, hehehe). Selain itu juga saya ada rencana ingin kembali jadi wanita karier waktu itu, makanya ngejar umur yang sudah tak lagi belia ini, hehehehehe.

Yang perlu diingat adalah Tuhan memberikan anak kepada siapa saja yang DIA kehendaki. Kalau Tuhan memberikan pada kita, berarti kita memang mampu mengemban amanah itu. Tinggal manusianya aja nih yang mau apa enggak. Tinggal manusianya aja nih, yang memilih untuk bersyukur atau mengeluh.

Anak adalah anugerah, bukan masalah. Mereka adalah pelipur lara, penyemangat jiwa. Jangan jadikan mereka sebagai beban hidup kita. Jangan pula jadikan mereka sasaran pelampiasan emosi kita. Entah seorang ibu lebih memilih untuk menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga, entah seorang ibu mengatur jarak kelahiran anaknya berapa tahun, saya yakin semua atas campur tangan Tuhan. Apapun itu, tetap bersyukurlah. Jalani, nikmati, syukuri! Semangat terus buat mommy yang punya anak dengan jarak berdekatan juga🤗